Diantara perkara mulia yang
hendaknya menjadi kesibukan kita adalah menuntut ilmu syar’i yang bersumber
dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karena ilmu yang bersumber dari keduanya adalah cahaya dan pelita bagi
pemiliknya, sehingga nampak jelas baginya kegelapan kebatilan dan kesesatan.
Orang yang memiliki ilmu akan dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan,
kebenaran dan kebatilan, sunnah dan bid’ah. Maka ilmu adalah perkara mulia yang
hendaknya menjadi perhatian setiap muslim, perkara yang harus diutamakan.
Karena ilmu itu lebih didahulukan daripada perkataan dan perbuatan. Sebagaimana
firman Allahta’ala :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ
لِذَنْبِكَ [محمد:19]
“Ketauhilah, sesungguhnya tidak
ada Ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan mintalah ampun
atas dosa-dosamu.” [Muhammad : 16]
Didalam ayat diatas Allah lebih
mendahulukan ilmu daripada perkataan dan perbuatan.
Dalil-Dalil Keutamaan Ilmu Dari
al Qur’an
Terdapat banyak dalil, baik dari
Kitabullah maupun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang
menjelasakan tentang keutamaan, keagungan serta ketinggian ilmu. Diantaranya
adalah :
Pertama : Firman Allah ta’ala :
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ
وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ [آل عمران:18]
“Allah menyatakan bahwasanya tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para
malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak
ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” [Ali Imraan : 18]
Ayat ini menunjukkan akan
keutamaan ilmu, karena Allah ta’ala telah menggandengan persaksian
para ulama’ dengan persaksian-Nya dan persaksian para malaikat, bahwa Dia
adalah sesembahan yang benar, yang berhak diibadahi, tidak ada Ilah yang
benar melainkan Dia.
Kedua : Firman Allah ta’ala
:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [طه:114]
“Dan katakanlah (wahai Nabi
Muhammad) tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 114]
Allah ta’ala memerintahkan
NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta kepadaNya
tambahan ilmu. Ini adalah dalil yang sangat jelas akan keutamaan menuntut ilmu,
karena tidaklah Allah perintahkan kepada beliau untuk meminta tambahan sesuatu
kecuali hanya tambahan ilmu.
Ketiga : Allah ta’ala ketika
menjelaskan keutamaan ilmu serta keagungan kemuliaannya berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا
يَعْلَمُونَ [الزمر:9]
“Katakanlah, apakah sama antara
orang yang mengetahui dengan orang yang tidak tahu.” [Az Zumar : 9]
Dalam ayat ini Allah ta’ala membedakan
antara ahlul ilmi dengan selainnya. Dia menjelasakan bahwa tidaklah sama antara
orang yang tahu kebenaran dengan orang yang jahil akan kebenaran.
Keempat : Allah ta’ala menjelaskan
tentang kemuliaan ahlul ilmi serta keutamaan mereka dalam firman-Nya :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ [فاطر:28]
“Sesungguhnya yang benar-benar
takut kepada Allah diantara para hamba-Nya adalah para ulama’.” [Faathir :
28]
Didalam ayat ini Allah ta’ala menerangkan
bahwa ulama’ yang haqiqi adalah orang yang takut kepada Allah (ahlul
khosyah).
Dalil-Dalil Keutamaan Ilmu Dari
As Sunnah
Kita dapati banyak sekali
dali-dalil yang besumber dari al Qur’an yang menunjukkan akan keutamaan ilmu.
Demikian pula dalil-dalil yang berasal dari As Sunnah An Nabawiyah dan
hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya adalah :
Pertama : Hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى
الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ
كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ
السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ ،
وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Barangsiapa yang menempuh suatu
perjalanan dalam rangka untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya
jalan ke surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu masjid diantara
masjid-masjid Allah, mereka membaca Kitabullah serta saling mempelajarinya
kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan rahmat serta diliputi
oleh para malaikat. Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan para malaikat.”
Kedua : Sebuah hadits yang
ada di shahihain dari Muawiyah radhiyallahu ‘anhu,
sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang dikehendaki
oleh Allah kebaikan, niscana akan difahamkan tentang urusan agamanya.”
Hadits ini menunjukkan bahwa
seorang hamba yang memiki semangat dan perhatian dalam menuntut ilmu merupakan
salah satu tanda yang menunjukkan bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.
Karena siapa saja yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka akan difahamkan
dalam urusan agamanya.
Ketiga : Hadits yang
dikeluarkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya, dari Abu Darda radhiyallahu
‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ
الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ
الْعِلْمِ ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ
فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ
عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ
الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ
الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا
الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan
dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan tunjukkan baginya salah satu jalan
dari jalan-jalan menuju ke surga. Sesungguhnya malaikat meletakan syap-sayap
mereka sebagai bentuk keridhaan terhadap penuntut ilmu.Sesungguhnya semua yang
ada di langit dan di bumi meminta ampun untuk seorang yang berilmu sampai ikan
yang ada di air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan
ahli ibadah sebagaimana keutamaan bulan purnama terhadap semua bintang. Dan
sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya mereka
tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mewariskan ilmu.
Barangsiapa yang mengambil bagian ilmu maka sungguh dia telah mengambil bagian
yang berharga.”
Ini adalah hadits yang sangat
agung. Berisi penjelasan tentang keutamaan ilmu, kemuliaan ahlul ilmi dan
pahala mereka disisi Allah ta’ala. Hadits diatas mengandung lima kalimat,
setiap kalimatnya menunjukkan akan keutamaan ahlul ilmi dan tingginya kedudukan
mereka disisi Allahta’ala. Oleh karena itu ImamAl Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah memiliki
tulisan khusus yang menjelaskan hadits ini.
Keempat : Diantara hadits
shahih yang menjelaskan tentang keutamaan dan kemuliaan menuntut ilmu adalah
sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia telah meninggal
dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah,
ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.” [HR. Muslim].
Hadits ini menunjukkan atas
agungnya keutamaan ilmu dan pahala mengajarkan ilmu, baik lewat kajian maupun
tulisan. Karena hal tersebut akan mmbuahkan pahala yang besar untuk manusia
baik dimasa hidupnya maupun setelah kematiannya. Amalannya tidak akan terputus
meskipun dia sudah meninggal dunia, bahkan pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala senantiasa
mengalir kepadanya selama ilmu yang dia ajarkan dimanfaatkan oleh manusia. Ini
merupakan perkara kedua yang Allah catat dan tetapkan untuk manusia. Karena
Allah ta’ala menulis amal manusia yang dikerjakan semasa hidupnya
serta menulis bekas (atsar) dari amalannya tersebut setelah kematiannya.
Allah ta’ala berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا
وَآثَارَهُمْ [يس:12]
“Sesungguhnya Kami menghidupkan
orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan
bekas-bekas yang mereka tinggalkan.” [Yasin : 12]
Maka yang dicatat oleh
Allah ta’ala adalah amalan seorang hamba dan bekas dari amalannya.Atsar dari
amalan seseorang ada pada saat dia hidup maupun setelah kematiannya. Oleh
karena itu pahala para ulama’ yang telah meninggalkan dan mewariskan ilmu dari
karya tulis mereka senantiasa mengalir kepada mereka selama manusia mengambil
manfaat dari kitab dan tulisan mereka.
Kelima : Diantara hadits
yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan mengajarkannya adalah sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam :
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang terbaik diantara kalian
adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
Didalam hadits ini terdapat
penetapan kebaikan bagi orang yang menyibukkan dirinya dengan Kitabullah dengan
mempelajari atau mengajarkannya. Oleh karena itu mereka termasuk orang terbaik
dari umat ini. Telah datang hadits dari shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ
آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat
derajat suatu kaum dengan Al Qur’an dan menurunkan derajat kaum yang lain
dengannya.”
Keenam : Telah datang
keterangan bahwa Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan
kecerahan wajah bagi orang yang memiliki perhatian terhadap ilmu, berusaha
memahami, mempelajari dan mengajarkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى
يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ
حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ
“Semoga Allah mencerahkan wajah
seseorang yang mendengarkan hadits, lalu menghafal dan menyampaikannya. Betapa
banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Dan
betapa banyak orang yang membawa fiqih namun dia bukan seorang yang faqih.”
Kandungan hadits ini menunjukkan
akan keutamaan ilmu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a
dengan do’a yang agung dan berbarakah bagi ahlul ilmi dan penuntut ilmu.
Ringkasnya, ada banyak dalil yang
menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan ilmu. Maka selayaknya seorang muslim
dan muslimah untuk bersungguh-sungguh memperhatikan dan memanfaatkan waktunya
dijalan ilmu. Hendaknya dia selalu memiliki bagian dari menuntut ilmu dalam
perjalanan harian dia. Oleh karena itu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa
sallam setiap kali selesai dari melaksanakan shalat subuh beliau senantiasa
berdo’a :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا
وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah sesungguhnya saya minta
kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rizqi yang baik dan amalan yang diterima.”
Do’a yang senantiasa beliau
ucapkan setiap harinya setelah shalat subuh ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu
yang bermanfaat termasuk tujuan terbesar seorang muslim disetiap perjalanan
waktu hariannya. Dan sesungguhnya menuntut ilmu lebih didahulukan daripada
mencari rizqi dan beramal. Karena ilmu itu sebagai dasar dan pondasi yang dapat
membedakan antara rizqi yang baik dan buruk, anatara amal shalih dan amal tidak
shalih. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya benar-benar memiliki
perhatian terhadap waktunya, dia gunakan untuk menuntut ilmu supaya setiap hari
dia mendapatkan bagian dari ilmu.
Adab-Adab Penuntut Ilmu
Setelah seorang penuntut ilmu
mengetahui dan memahami akan keutamaan menuntut ilmu, maka hendaknya dia
memiliki perhatian yang besar terhadap permasalahan adab-adab penuntut ilmu, diantaranya
adalah :
Pertama : Ikhlas
Seorang penuntut ilmu dalam
mencari ilmu hedaknya punya perhatian besar terhadap keikhlasan niat dan
tujuanya dalam mencari ilmu, yaitu hanya untuk Allah ta’ala. Karena
menuntut ilmu adalah ibadah, dan yang namanya ibadah tidak akan diterima
kecuali jika ditujukan hanya untuk Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman
:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ
الدِّينَ [البينة:5]
“Dan mereka tidaklah
diperintahkan melainkan hanya untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan
amalan mereka.” [Al Baiyinah : 5]
Didalam shahihain disebutkan
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا
نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan itu
tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan memperolah pahala sesuai dengan
apa yang dia niatkan.”
Nabi shallallahu ‘alaihiwa
sallam juga bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
:
إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ
يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat
bentuk wajah dan harta kalian, namun yang Dia lihat adalah hati dan amalan
kalian.”
Oleh karena itu seseorang yang
punya cita-cita yang tinggi dalam mencari dan memperoleh ilmu hendaknya punya
perhatian yang besar terhadap keihklasan niat. Karena niat yang ikhlas
merupakan sebab akan barakahnya ilmu dan amal. Sebagaimana perkataan sebagian
salaf :
رُبَّ عملٍ صغير تكثِّره النية ، ورُبَّ عملٍ كثير تصغره النية
“Betapa banyak amalan kecil
menjadi besar karena niatnya dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil
karena niatnya pula.”
Maka setiap orang yang telah
diberi taufiq oleh Allah untuk bisa berjalan diatas jalan ilmu hendaknya
waspada terhadap niat yang rusak dan selalu berusaha untuk menjadikan niatnya
dalam menuntut ilmu hanya mengharapkan keridhaan dan wajah Allah ta’ala.
Kedua : Bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu.
Sesungguhnya seorang hamba butuh
kepada kesungguhan dan semangat untuk memperoleh ilmu. Dia paksa jiwanya untuk
jauh dari sifat lemah dan malas. Oleh karena itu Nabi kita yang mulia,
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah dari
sifat lemah dan malas. Karena malas akan menyebabkan terhalanginya seseorang
dari mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan sebaliknya dengan kesungguhan akan
diperoleh banyak keutamaan. Sebagaimana perkataan yang ada dalam suatu syair :
الجَدُّبالجِدِّ والحرمانُ بالكسلِ
فانصَبْ تُصِب عن قريبٍ غايةَ الأملِ
Maksudnya adalah bahwa bagian
besar dan berharga dari ilmu tidak akan diraih kecuali dengan
kesungguhan. Adapun sifat malas dan lemah hanya akan menghalangi seseorang dari
mendapatkan ilmu. Oleh karena itu seorang penuntut ilmu handaknya mengerahkan
segala upaya untuk memaksa jiwanya dalam meraih ilmu. Sebagaimana firman
Allah ta’ala :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ
اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ [العنكبوت:69] .
“Dan orang-orang yang
bersungguh-sungguh dijalan Kami nisacaya Kami akan tunjukkan kepadanya
jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat
baik.” [Al Ankabut : 69]
Ketiga : Meminta pertolongan
kepada Allah ta’ala.
Ini adalah diantara perkara
penting yang harus diperhatiakan oleh seorang penuntut ilmu, bahkan perkara ini
adalah dasar yang harus ada pada seorang penuntut ilmu , yaitu beristi’anah atau
meminta pertolongan kepada Allah ta’ala untuk bisa meraih ilmu. Telah
berlalu sebelumnya firman Allah ta’ala :
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا [طه:114]
“Dan katakanlah (wahai Nabi
Muhammad), ya Rabb tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha : 11]
Telah kita ketahui juga bahwa
Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah
selesai shalat subuh berdo’a kepada Allah :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا
وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah sesungguhnya saya minta
kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rizqi yang baik dan amalan yang diterima.”
Maka seorang penuntut ilmu
hendaknya selalau beristi’anah kepada Allah, meminta pertolongan dan
taufiq kepadaNya. Allah ta’ala berfirman :
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ
مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ [النور:21]
“Sekiranya tidaklah karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun
dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.” [An
Nur : 21]
Dalam ayat yang lain Dia juga
berfirman :
وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي
قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ
أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ [الحجرات:7]
“Akan tetapi Allah menjadikan
kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [Al Hujurat : 7]
Keempat : Mengamalkan ilmu.
Seorang penuntut ilmu harus punya
perhatian serius terhadap perkara mengamalkan ilmu. Karena tujuan dari menuntut
ilmu adalah untuk diamalkan. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata :
يهتف بالعلم العمل ، فإن أجابه وإلا ارتحل
“Ilmu akan mengajak pemiliknya
untuk beramal, jika dia penuhi ajakan tersebut ilmunya akan tetap ada, namun
jika tidak maka ilmunya akan hilang.”
Oleh sebab itu seorang penuntut
ilmu harus benar-benar berusaha mengamalkan ilmunya. Adapun jika yang
dialakukan hanya mengumpulkan ilmu namun berpaling dari beramal, maka ilmunya
akan menjadi mencelakannya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam :
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
“Al Qur’an bisa menjadi penolong
bagimu atau justru bisa mencelakakanmu.”
Menjadi penolongmu jika Engkau
mengamalkannya, dan mencelakakanmu jika Engkau tidak mengamalkannya.
Kelima : Berhias dengan akhlaq
mulia.
Seorang penuntut ilmu hendaknya
menghiasi dirinya dengan akhlaq mulia seperti, lemah lembut, tenang, santun dan
sabar. Karena sifat-sifat tersebut termasuk akhlaq mulia. Para ulama’ telah
menulis banyak kitab tentang adab seorang penuntut ilmu. Diantara kitab ringkas
yang telah mereka tulis adalah kitab “Hilyah Thalabil Ilmi” buah karya Syaikh
Bakr Abu Zaid rahimahullah. Kitab ini adalah kitab yang sangat bermanfaat
dan berfaedah yang menjelaskan tentang adab-adab penuntut ilmu.
Keenam : Mendakwahkan ilmu.
Jika seorang penuntut ilmu
mendapatkan taufiq untuk bisa mengambil manfaat dari ilmunya, hendaknya dia
juga bersemangat untuk menyampaikan ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada orang
lain. Dalam rangka mengamalkan firman Allah ta’ala :
وَالْعَصْرِ
(1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) [سورة
العصر]
“Demi masa. Sesungguhnya manusia
itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan
nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al Ashr :1-3]
Didalam ayat yang mulia ini,
Allah ta’ala bersumpah bahwa manusia semunya mengalami kerugian,
tidak ada seorangpun yang selamat dari kerugian kecuali orang yang beriman,
berilmu, mengamalkan ilmunya, mendakwahkannya kepada orang lain serta bersabar
atas gangguan yang menimpanya.
Dari penjelasan diatas dapat
diketahui bahwa kedudukan ilmu dan beramal dengannya itu bertingkat-tingkat.
Sebagaimana dinukil oleh Adz Dzahabi rahimahullah di Siyaru
A’laamin Nubalaa dari Muhammad bin An Nadhr, dia berkata :
أول العلم الاستماع والإنصات ، ثم حفظه، ثم العمل به ، ثم بثه
“Ilmu yang pertama kali adalah
mendengar dan diam, kemudian menghafal, mengamalkan lalu menyebarkannya.”
Orang yang menyebarkan ilmu akan
memperoleh pahala yang besar, karena setiap kali ada orang yang mengambil
faedah dari ilmu yang dia sebarkan dan dakwahkan akan dicatat baginya pahala
sebagaimana pahala orang yang mengamalkan dakwahnya tersebut. Sebagaimana sabda
Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam :
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ
مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada
petunjuk maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun juga.”
Beliau shallallahu ‘alaihi
wa sallam juga bersabda :
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan
kebaikan maka baginya ada pahala sebagaimana orang yang melakukannya.”
Maka setiap kali ada orang yang
mengambil manfaat dari ilmunya maka akan dicatat pahala baginya. Tidak
diragukan bahwa ini menunjukkan akan keutamaan mengajarkan ilmu dan memberi
manfaat kepada manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ
النَّعَمِ
“Allah memberikan petunjuk
kepada satu orang disebabkan karena kamu, maka hal itu lebih baik dari pada
onta merah (harta yang paling mahal).”
Kita meminta kepada Allah, Rabb
arsy yang agung, kita meminta dengan menyebut nama-namanya yang indah dan
sifat-sifatnya yang tinggi agar menganugerahkan kita semua ilmu yang bermanfaat
dan amal shalih. Menunjuki kita kepada jalan-Nya yang lurus, memperbaiki semua
keadaan kita dan tidak membiarkan kita bersandar pada diri kita sendiri
meskipun hanya sesaat.
Alhamdulillah Rabbil Alamin
Diterjemahkan secara bebas dari
transkrip muhadharah Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al
Badr hafidzahumallah فَضْلُ طلَبِ
الْعِلْمِ وَآدَابُ طُلَّابِ

